NATAL ADALAH HADIAH

Salah satu kegiatan yang sering kali dilakukan Ketika kita memperingati Natal adalah tukar kado / hadiah. Banyak juga yang mengkaitkan hari Natal dengan pemberian hadiah bagi anak-anak sehingga mereka sangat menantikan hari Natal. Bagi kita yang sudah dewasa, respon terhadap Natal ternyata berbeda-beda. Ada yang antusias menantikannya, ada pula yang menganggapnya biasa saja.
Jika kita mempelajari dari Firman Tuhan, ternyata Natal itu adalah hadiah! Apakah maksudnya ?

1. Natal adalah ‘hadiah’ dari Bapa Surgawi kepada dunia.
Dalam Yohanes 3:16 dikatakan karena KasihNya, Ia mengaruniakan anakNya yang tunggal, ..” Bapa memberikan hadiah yang luar biasa bagi dunia, yaitu AnakNya karena Kasih Bapa pada dunia ini. Sebab semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Elohim (Roma 3:23), dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23), kematian yang kekal terpisah dari Tuhan selama-lamanya. Kebinasaan bukanlah tujuan Elohim menciptakan manusia, Elohim membenci dosa tapi mengasihi mereka yang berdosa. Itulah sebabnya Tuhan mengaruniakan Yesus Kristus untuk menjadi korban tebusan dosa-dosa manusia, sehingga barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal!

2. Natal adalah ‘hadiah’ keselamatan atas semua bangsa.
Di Yerusalem, ada seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Simeon dituntun oleh Roh Kudus untuk datang ke Bait Allah disaat yang sama ketika Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Apa yang selanjutnya terjadi? Ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Tuhan, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Lukas 2:28-32).
Sebelum kelahiran Yesus (natal), rencana keselamatan terfokus kepada bangsa Israel, melalui pemberian hukum Taurat, dengan harapan ketika bangsa Israel melaksanakan hukum Taurat dengan semangat dan cara yang dimaksudkan Tuhan, Israel dapat menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Sayangnya bangsa Israel gagal mengemban misi yang diberikan Elohim. Kelahiran Yesus (natal) membuka pintu yang sangat lebar bagi bangsa-bangsa non-Yahudi untuk menerima keselamatan yang Tuhan sediakan melalui Yesus Kristus.

PENUTUP
Kita sekarang memahami bahwa ‘hadiah’ yang Tuhan berikan kepada umat manusia di hari Natal bukanlah berupa barang atau atau benda berharga, tetapi Pribadi Yesus yang datang untuk menyelamatkan mereka yang mau percaya kepadaNya. Terpujilah Tuhan Yesus, Juruselamat Manusia! Amin!

DIBERKATI DAN TETAP “ON FIRE”

Matius 19:24
Apakah salah dan berdosa jika kita menjadi kaya dan diberkati? Tentu saja tidak, tetapi tentu ada alasan mengapa Tuhan Yesus mengatakan Firman tadi. Hal ini dipertegas dengan apa yang dinyatakan dalam Kitab Wahyu 3:14-22 merupakan pesan Tuhan Yesus kepada jemaat di Laodikia. Jemaat di Laodikia adalah jemaat yang kaya secara materi. Mereka berdagang emas, salep mata yang sangat terkenal, dan juga berdagang baju-baju. Mereka berkata: aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa. Tuhan Yesus berkata kepada mereka: “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Jadi tipu daya kekayaan dan kenikmatan hidup akan membuat orang Kristen suam-suam kuku dan tidak berbuah itu akan dimuntahkan oleh Tuhan Yesus. Artinya mereka akan kehilangan keselamatan kalau mereka tidak bertobat.
Bagaimana agar kita diberkati namun tetap bertumbuh dan “on fire”?
1. Jangan mengejar kekayaan
Mengejar kekayaan sangat berpotensi membuat seseorang menjadi kehilangan banyak waktu untuk bersekutu dan beribadah dengan Tuhan Yesus, memiliki waktu yang berkualitas dengan keluarga dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Mereka yang mengejar kekayaan selalu mengukur waktunya dengan uang. Tidak memiliki waktu untuk bersekutu dan beribadah kepada Tuhan Yesus tentu berdampak secara langsung terhadap kerohaniannya. Dan dapat dipastikan yang model seperti ini tidak akan bertumbuh secara rohani. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang”. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Tim 6:10)
2. Jangan menggantungkan pengharapan kepada kekayaan
Apa yang dialami oleh Ayub, menjadi suatu bukti hidup bagi kita bahwa harta yang kita miliki dengan mudahnya dapat habis dan hilang hanya dengan sekejap mata saja (Ayub 1:13-17). Ayub belajar melalui proses kehilangan harta, namun ia mendapatkan yang jauh lebih berharga, yakni pengenalan secara pribadi akan TUHAN yang disembahnya. Sangat berbeda dengan seorang pemuda kaya yang datang kepada Tuhan Yesus di Matius 19:20-22. Ketika Tuhan menyuruh kepada pemuda tersebut untuk menjual hartanya dan mengikut Tuhan Yesus, pemuda tersebut malah bersedih.
3. Pergunakanlah kekayaan untuk menjadi berkat bagi orang lain
Janji Tuhan dalam Kejadian 12:2 adalah kita akan “diberkati. “Diberkati” tidak bisa dilepaskan dengan “menjadi berkat”, sebab itu adalah salah satu tujuan utama mengapa TUHAN memberkati kita, yakni agar kita menggunakan kekayaan tersebut untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan bukan sekedar hanya untuk dinikmati diri kita sendiri atau keluarga saja. (1 Timotius 6:18-19)

PENUTUP
Tidak salah diberkati berlimpah-limpah dan menjadi kaya, tapi ingat: jangan mengejar kekayaan, jangan menggantungkan diri pada kekayaan dan gunakan kekayaan kita untuk menjadi saluran berkat bagi yang lain. Be blessed, keep on growing and always on fire! Maranatha!

HASIL DARI PENANTIAN

Yesaya 30:15
Dalam hidup, ada saat di mana kita harus bergerak maju dengan penuh semangat, menerjang semua hambatan dan meraih apa yang diharapkan. Namun ada kalanya kita harus diam dan menunggu, seperti saat ini di mana kita diperhadapkan dengan sebuah pandemic yang membuat kita harus menahan keinginan kita untuk maju dan harus sabar menunggu sampai pandemic ini berlalu.

Yesaya 30:15 dapat menjadi acuan bagi kita bagaimana dalam sebuah masa penantian, kita tetap dapat memperoleh suatu hasil yang baik. Ada 2 sikap yang dapat kita lakukan :
1. Bertobat dan tinggal diam di dalam Tuhan (Yesaya 30:15a)
Sikap diam tidak akan menjadi sebuah sikap yang produktif, tetapi ketika sikap diam kita diiringi dengan sebuah sikap bertobat, introspeksi dan bercermin mengenai hidup kita, maka kita dapat memperbaiki diri kita menjadi lebih baik. Apalagi Ketika “diam” nya kita dalam bertindak / bekerja / berbuat juga disertai dengan keaktifan kita untuk terus mendekat pada Tuhan melalui doa, pujian dan penyembahan, maka justru kita akan bertambah kuat.
2. Tetap tinggal tenang dan percaya (Yesaya 30:15b)
Saat kita tinggal tenang dan percaya, maka kita akan memperoleh kekuatan. Kekuatan itulah yang akan menyelamat dan meluputkan kita hari-hari ini. Respon spontan dari daging / kemanusiaan kita ketika kita menghadapi masalah adalah panik dan merasa harus berbuat sesuatu untuk mengatasi atau menyelamatkan diri. Namun di dalam Tuhan justru kita harus tenang dan tetap percaya, karena bukan kita yang akan berperang, tetapi Tuhan yang akan berperang bagi kita. Ketenangan juga membuat kita tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Firman Tuhan di dalam Yeremia 17:5 mengatakan terkutuklah mereka yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan di ayat yang ke 7, diberkatilah mereka yang mengandalkan Tuhan. Ketenangan membuat kita mudah untuk mengandalkan Tuhan.

PENUTUP
Biarlah kita berbalik dari jalan-jalan yang jahat dan banyak tinggal di hadirat Tuhan agar kita tetap tenang dan percaya karena disitulah letak kekuatan kita. Tuhan tidak memebrikan pencobaan melebih batas kekuatan kita dan Ia senantiasa memberikan pertolongan tepat pada waktuNya. Saat kita mau menunggu waktuNya, cara Tuhan memberikan pertolongan akan sangat luar biasa, jauh melebih apa yang dapat kita doakan dan pikirkan (Efesus 3:20). Amin!

ROH KUDUS TERUS MENYALA

Roma 12:11
Hari-hari ini, dimana pandemic virus corona masih terjadi, banyak orang yang dibuat ketakutan, kuatir dan resah. Namun bagi kita anak-anak Tuhan yang memiliki Roh Kudus di dalam hidup kita, kita memiliki akses kepada sumber kekuatan dan semangat yang baru. Itulah mengapa penting bagi kita untuk tetap membuat api Tuhan di dalam kita terus menyala sama seperti para Imam dalam Imamat 6:8-13. Kitalah para Imam itu (1 Petrus 2:9), oleh karena itu biarlah hidup kita terus menjadi mezbah yang selalu memberikan persembahan hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan (Roma 12:1)
Ada beberapa cara agar Roh Kudus terus menyala dalam hidup kita :
1. Hidup Intim dengan Tuhan (Imamat 6:9)
Untuk membangun hubungan yang intim dengan seseorang harus dimulai dengan rasa cinta. Cinta itu harus bisa dirasakan melalui pengalaman yang pribadi, tidak bisa diajarkan oleh orang lain kepada kita. Demikian pula dengan hubungan kita kepada Tuhan, kita harus merasakannya secara pribadi melalui kehidupan kita sehari-hari, mulai dari saat kita merenungkan Firman Tuhan, berdoa sebagai bentuk kita dalam berbicara kepada Tuhan dan mendengarkan / menangkap kehendak Tuhan, dan Ketika kita menjalani hidup kita. Api Cinta itu harus terus kita jaga sehingga dalam hidup kita mampu bertahan di tengah apapun situasi yang terjadi.
2. Hidup Kudus dihadapan Tuhan (Imamat 6:10)
Dikatakan seorang imam harus mengenakan kain lenan untuk menutupi auratnya saat menjaga api diatas mezbah. Kain lenan di dalam Alkitab dikaitkan dengan kekudusan, kita sudah dikuduskan oleh kuasa darah Tuhan Yesus. Tugas kita sebagai imamat yang rajani yaitu untuk hidup menjaga kekudusan, melekat dengan Tuhan melalui firman itu kita dikoreksi supaya dalam kehidupan ini terus menjaga kekudusan. Hidup kudus kita menjaga agar api Roh Kudus tetap menyala.
3. Buanglah dosa (Imamat 6:10-11)
Jauhilah abu dari mezbah setelah pembakaran artinya hidup kita terus terjaga, dan tidak membiarkan dosa menempel justru kita harus membuangnya. Galatia 5:19-21, buanglah segala sampah-sampah yang mengotori hidupmu, agar tidak ada yang menghalangi hidup kita dan Roh Kudus terus menyala

PENUTUP
Kalau Roh Kudus terus menyala-nyala dalam hidup kita maka:
1. Hidup ini terasa nyaman, penuh dengan damai sejahtera dan sukacita.
2. Kita bisa melakukan amanat agung, menjadi messenger Tuhan untuk menjangkau jiwa.
3. Kita mempercepat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.
Amin!

KUASA PERCEPATAN

Matius 24:22
Firman Tuhan tadi berbicara mengenai situasi di akhir jaman, di mana nanti akan ada masa yang sulit di mana akan terjadi siksaan yang dashyat (ayat 21) sehingga Tuhan perlu mempersingkat waktu agar dari segala yang hidup ada yang selamat, yaitu orang-orang pilihanNya. Artinya Tuhan memiliki Kuasa untuk mempersingkat / mempercepat sehingga apapun bisa terjadi seturut kehendakNya. Bagaimanakah Kuasa Percepatan bekerja?

1. Kejadian 26:12-13
Ishak saat itu tengah berada di keadaan yang sulit, karena negeri dimana dia berada tengah berada dalam masa kelaparan. Namun karena ia taat pada perintah Tuhan untuk diam di negeri tersebut, maka Tuhan membuat apa yang ia tabur menjadi berhasil dengan sangat cepat. Kuasa Percepatan bekerja Ketika kita meresponi perintah Tuhan dengan ketaatan, dalam hal ini Ishak diam di negeri tersebut dan menabur.

2. Matius 24:22
Yang membuat Tuhan mempersingkat waktu adalah karena Tuhan peduli kepada orang-orang pilihanNya, sehingga Ia mempersingkat waktu supaya orang-orang pilihanNya dapat bertahan pada masa kesusahan yang besar. Kita yang percaya kepada Yesus adalah orang-orang pilihan Tuhan, karena Ialah yang telah memilih dan memanggil kita sehingga kita percaya pada Dia (2 Timotius 1:9). Jikalau kita adalah orang pilihanNya, maka kita harus hidup sesuai dengan FirmanNya, dan Ketika kita hidup dalam FirmanNya ada Kuasa percepatan yang bekerja (roma 9:28).

3. Kisah Para Rasul 8:39-40
Filipus mengalami Kuasa Percepatan dimana dalam sekejap tubuhnya berpindah dari jalan Gaza ke Asdod karena Filipus memiliki misi dari Tuhan yaitu untuk memberitakan Injil. Artinya, Kita dapat mengalami Kuasa Percepatan Ketika kita akan melakukan apa yang menjadi misi / tugas / panggilan dari Tuhan.

PENUTUP
Kalau kita melihat dari contoh-contoh bagaimana Kuasa Percepatan Tuhan bekerja, semuanya memiliki kesamaan, yaitu semua terjadi karena / seturut kehendakNya. Kita tidak bisa memaksakan Tuhan untuk melakukan percepatan atas kehendak kita, semua Kembali kepada kehendakNya. Namun yang menjadi perenungan bagi kita adalah apakah hidup kita sudah melakukan kehendak Tuhan? Amin

MENJADI PERSEMBAHAN YANG HIDUP

Roma 12:1
Jikalau kita berbicara mengenai persembahan di dalam PB dibandingkan dengan persembahan dalam PL, sesungguhnya takarannya jauh lebih besar dibandingkan dalam PL karena yang harus kita persembahkan bukan lagi sejumlah materi, namun seluruh hidup kita, karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu memberikan hidupNya bagi kita. Jikalau kita mengerti hal ini dengan baik, kita tentu tidak akan bersungut-sungut mengenai “jumlah” persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, sebab jika tubuh saja kita persembahkan, apalagi materi. Dua makna mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup :
1. Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup artinya tidak mati rohani.
Jikalau kita masih bernafas, itu tentu berarti jasmani kita masih hidup. Tetapi rohani kita bisa saja mati. Kematian rohani adalah terputusnya hubungan kita dengan Tuhan, terpisah dari Tuhan. Orang yang mati rohani adalah orang yang sudah tidak melibatkan lagi Tuhan di dalam hidupnya dan tidak lagi membangun hubungan dengan Tuhan melalui doa, pujian dan penyembahan, tidak lagi tekun membaca Firman dan enjauhkan diri dari kegiatan ibadah. Untuk orang-orang seperti ini, Alkitab katakan dalam Efesus 5:14 agar bangun dan bangkit! Tidak ada cara lain selain dengan bertobat dan Kembali cara wajah Tuhan dengan sungguh-sungguh.

2. Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup artinya tidak suam-suam kuku
Suam-suam kuku adalah sebuah kondisi “sekarat rohani”. Dalam Wahyu 3:16 Tuhan mengingatkan agar jangan menjadi orang yang suam-suam kuku. Orang yang usam-suam kuku adalah mereka yang kompromi dengan dunia dan menjadi serupa dengan masyarakat di sekelilingnya. Mengakui dirinya Kristen, namun hidupnya menjauhi nilai-nilai kekristenan dan bahkan melakukan apa yang dunia lakukan. Kita dipanggil untuk menjadi garam, memberikan rasa bagi sekitar kita. Menjadi lilin, untuk menjadi terang dan menerangi lingkungan kita yang gelap, bukannya menjadi sama seperti dunia di sekitar kita. Mereka yang suam-suam haruslah segera bertobat!

PENUTUP
Marilah kita persembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, mari jaga dan pelihara hidup kerohanian kita. Jangan sampai suam-suam kuku, apalagi sampai mati rohani. Tidak ada kata terlambat untu bertobat dan Kembali “on fire” dengan Tuhan Yesus. Amin

BERSAKSI TERUS TANPA HENTI

Lukas 8:39
Kita tahu bahwa situasi pandemic ini belumlah berakhir. Jikalau dalam beberapa bulan di awal pandemic kita focus untuk beraktifitas di rumah dan focus untuk menjaga agar kita tidak tertular dengan tidak keluar rumah, di saat ini kita berada di masa “new normal”, di mana aktifitas kita hampir semuanya kembali seperti biasa, namun dengan protocol Kesehatan yang diperketat. Jika di awal-awal pandemic ini kita focus kepada diri kita sendiri, di era new normal kita mulai kembali aktif dan bersosialisasi. Marilah di hari-hari ini kita giat kembali untuk bersaksi.
1. Saksikan Pemeliharaan Tuhan (Habakuk 3:17:19)
Adakah yang berpikir: “Apa yang bisa saya saksikan? Usaha terhenti, pekerjaan berkurang, tidak banyak yang bisa dilakukan!” Tunggu dulu…, sadarkah kita bahwa jika kita masih bisa bertahan dan bisa ada sampai saat ini, itu adalah karena pemeliharaan Tuhan yang ajaib bukan?! Sekalipun yang kita bisa nikmati tidak sebanyak (bahkan semewah) yang lalu, kita masih bisa menikmati hidangan yang menyehatkan dan masih bisa mengalami kesehatan bukan?! Itu adalah hal-hal yang patut kita syukuri dan kita nyatakan sebagai kesaksian hidup kita bahwa pemeliharaan Tuhan luar biasa. Jika hal ini kita saksikan kepada orang-orang yang berinteraksi dengan kita, mereka yang dalam keadaan lemah dan putus pengharapan akan dikuatkan / dihiburkan.
2. Saksikan pertolongan Tuhan (Yesaya 41:13, Mazmur 63:7-9)
Banyak kondisi yang “serba nyaris” selama pandemi ini. Usaha nyaris bangkrut, pekerjaan nyaris hilang, dan ‘nyaris-nyaris’ lainnya. Tetapi terpujilah nama Tuhan, Dia adalah Penolong kita. Banyak orang di luar sana yang menantikan siapa yang dapat menolong mereka di tengah kesukaran ini. Uluran tangan kita diperlukan, namun pastilah terbatas. Mereka harus mendengar siapa Sumber Pertolongan Sejati kita. Beritakanlah Dia! Saksikanlah tentang Dia! Ceritakanlah bagaimana Tuhan telah tolong kita.
3. Saksikan Mujizat Tuhan (Mazmur 96:3-4)
Pandemi ini telah memakan banyak sekali korban jiwa; belum lagi yang terjangkit dan sakit. Dampak ekonomi menyusahkan banyak kalangan. Namun demikian, pertolongan dan mujizat Tuhan tetap terjadi di masa seperti ini. Tuhan tidak tinggal diam dan menyatakan mujizat kepada mereka yang membutuhkanNya. Mungkin kita adalah salah satunya?! Saksikanlah! Permuliakanlah nama Tuhan dengan kisah mujizat saudara, khususnya di masa pandemi ini.

PENUTUP
Marilah kita Kembali bersaksi, ingatlah bahwa ada Amanat Agung Tuhan Yesus yang harus kita selesaikan. Bersaksilah terus sampai Tuhan datang. Amin!

MELINTASI LEMBAH KEKELAMAN

Mazmur 23:4

Apakah yang dimaksud dengan “lembah kekelaman / The valley of shadow Death”? Sebuah situasi atau keadaan yang menakutkan, penuh ketidakpastian, atau suatu keadaa yang tidak nyaman, menekan, mengkuatirkan. Bukankah saat ini dunia tengah berada dalam lembah kekelaman? Bahkan kita umat Tuhan dan GerejaNya pun juga tidak terluputkan dari situasi dan keadaan saat ini.
Tuhan mengijinkan kita mengalami lembah kekelaman supaya kita kita bangkit dan semakin kuat, bertambah dewasa dalam kerohanian kita. Gereja harus mempersiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan Tuhan oleh karena itu kita semua harus masuk ke dalam proses pemurnian.
Mazmur 23 adalah interpretasi Daud akan hubungannya dengan Tuhan, yaitu seperti Gembala dan Domba. Daud tahu bagaimana Ketika ia menggembalakan domba, ia harus menghadapi saat-saat yang tidak nyaman, tempat yang kelam, berkabut dan bahkan bahaya binatang buas, namun ia hadapi semua karena ia tahu bahwa itu adalah tugas dan bagiannya.
Bagaimana kita bisa melewati lembah kekelaman seperti Daud?
Daud menulis, “Aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku! Daud memiliki keyakinan penuh kalau Tuhan ada beserta dia dan dekat dengan dia. Kita juga tahu bahwa Daud memiliki persekutuan yang kuat dengan Tuhan melalui kehidupan doa, pujian dan sembahnya, bahkan sampai 7 kali sehari (Mazmur 119:164)!
Jadi jika kita ingin bisa berhasil sekalipun diijinkan berada dalam lembah kekelaman, maka kita:
1. TIDAK BOLEH TAKUT.
Selalu percaya bahwa Tuhan beserta kita. Ada “gada dan tongkat” pelindung kita.
2. HARUS MEMILIKI IMAN, PENGHARAPAN, DAN KASIH (1Korintus 13:13).
Tumbuhkan iman kita dengan setia membaca Firman Tuhan. Berharaplah hanya kepada Sumber Pertolongan kita. Nyatakan dan pertahankan kasih kita.
3. HARUS SELALU BERSYUKUR (1Tesalonika 5:18). Kita tidak boleh bersungut-sungut. Kita harus mengetahui bahwa rencana Tuhan bagi kita adalah rencana yang baik dan mendatangkan sejahtera (Yesaya 55:8-9).

PENUTUP
Ketika kita berhasil melintasi lembah kekelaman, maka Mazmur 23:5-6 lah yang akan menjadi bagian kita. Oleh karena itu mari kita iktui teladan Daud, mari kita bangkit apapun situasi dan kondisi kita dan lintasilah Lembah Kekelaman Bersama dengan Tuhan! Amin

LAWATAN TUHAN MELAMPAUI KETERBATASAN

Kita tahu bahwa Elohim yang kita sembah adalah Tuhan yang Maha Kuasa, langit, bumi dan segala isinya adalah karya cipta Elohim sendiri (Kejadian 1:1-3, 26-27), Dia Baik dan sangat berlimpah akan Kasih Setia (Mazmur 100:5). Namun di tengah keadaan dunia seperti ini, mungkin ada yang bertanya Jika Tuhan baik, mengapa ia tidak menghentikan / menghapuskan segala wabah yang membuat manusia menderita?

Marilah kita belajar untuk melihat bukan hanya dari sudut pandang manusia, karena kita cenderung akan melihat sesuatu dari sudut yang negative dan hanya mengukur berdasarkan ukuran manusia. Tuhan itu senantiasa baik dan Ia selalu menganugerahkan hal-hal positif / bermanfaat atas kita. Kita pasti akan mengalami kemuliaan Elohim dinyatakan dalam keadaan kita di saat kita belajar untuk memandang dari sudut pandang rohani / ilahi.

Sebagai contoh karena covid kita ‘terpaksa” harus berdiam di rumah dan memiliki banyak waktu luang. Karena covid juga maka kita harus memanfaatkan teknologi secara optimal untuk dapat tetap bertumbuh dalam kerohanian kita. Gereja dan para Hamba Tuhan pun harus menggunakan media internet untuk membagikan Firman Tuhan sehingga jemaat Tuhan memiliki akses ke berbagai pengkotbah dan hamba Tuhan yang dapat memperkaya pengenalan kita akan Tuhan. Tuhan mau kita memperhatikan kerohanian kita di tengah masa-masa yang tidak biasa ini.

Selain itu, anggota keluarga yang belum kenal Tuhan dan mungkin selama ini belum mau diajak beribadah, karena sekarang ibadah diadakan secara online, maka mereka bisa ikut mendengar dan bahkan mengikuti ibadah tersebut di rumah Bersama dengan kita.

Atau mungkin ada kerabat atau anggota keluarga yang sakit sehingga tidak bisa ikut ibadah di gereja, saat ini mereka bisa mengikuti ibadah online di tempat masing-masing, dan pengurapan Tuhan turun untuk menjamah dan mendatangkan kesembuhan.

Hal lain yang juga terjadi adalah Ketika kita beribadah online, hadirat Tuhan ikut menjamah kita di tempat kita masing-masing, sehingga rumah-rumah yang mungkin selama ini dikuasai roh kegelapan dapat berubah atmosfirnya, bahkan hadirat Tuhan bekerja juga menjamah lingkungan di mana kita tinggal.

Jadi lawatan Tuhan dapat terjadi melampaui keterbatasan yang kita lihat dan rasakan. Bahkan Ia bekerja melampaui apa yang kita dapat pikirkan dan doakan.

PENUTUP
Karena Tuhan yang kita sembah adalah Elohim yang dashyat, maka kita harus bersyukur karena dalam situasi apapun Ia tetaplah Tuhan yang baik dan tidak akan berhenti mengasihi dan melawat umatNya. Tuhan rindu pertobatan terjadi dan justru di dalam situasi dan kondisi yang sulit, disitulah Ia akan menyatakan kemuliaanNya. Marilah kita tetap setia dalam ibadah kita dan nantikanlah lawatan Tuhan atas hidup kita di saat-saat yang luar biasa ini. Amin!

MENANG DI DALAM MASA SULIT

2 Tawarikh 20:1-29

Hari-hari ini kita melihat bagaimana kesulitan sedang terjadi di dunia ini. Seperti kita semua ketahui, bahwa seluruh dunia terkena dampak dari serangan virus dan serangan tersebut belum berhenti bahkan sampai saat ini. Ada pula resesi ekonomi yang melanda seluruh dunia sehingga banyak bisnis yang jatuh dan banyak yang menjadi korban. Bahkan tidak sedikit anak-anak Tuhan yang terkena dampak tersebut. Bagaimana kita mampu menghadapi masa-masa yang sulit ini? Marilah kita belajar dari kisah Raja Yosafat.
Yosafat berhadapan dengan masalah besar, berupa ancaman dari 3 musuh sekaligus. Tetapi ia bisa keluar dari masalah dan bahkan menang karena :
1. Mencari Tuhan (2 Tawarikh 20:3)
• Ketakutan adalah sifat alami yang ada di dalam manusia, tetapi kita tidak bisa membiarkan diri kita dikuasai oleh ketakutan.
• Pilihan yang salah adalah mencari pertolongan kepada dunia / manusia di saat belum mendapatkan jalan keluar, sehingga akhirnya kita kecewa.
• Tuhan ijinkan kita menghadapi keadaan yang tidak kita harapkan justru agar kita lebih mencari hadiratNya.
• Tuhan adalah tempat yang paling tepat bagi kita untuk mencari perlindungan, karena dalam perlindunganNya kita bukan hanya sekedar aman, namun kita justru akan dimampukan untuk menang.
2. Tidak Berputus Asa (2 Tawarikh 20:9)
• Apapun yang terjadi kita harus tetap percaya bahwa Tuhan adalah jawaban hidup kita.
• Jangan berputus asa Ketika kita belum menerima pemulihan yg kita inginkan. Tetap tunggu waktu Tuhan dan bangunlah iman kita di masa-masa penantian tersebut.
3. Tetap focus kepada Tuhan (2 Tawarikh 20:12)
• Jangan focus kepada masalah dan keadaan sebab apa yang mata kita lihat bisa menipu kita.
• Jangan focus kepada masalah dan keadaan karena tidak ada yang lebih besar daripada Tuhan yang kita sembah.
• Jangan focus kepada keadaan sekeliling kita karena Tuhan adalah factor pembeda yang dapat membedakan kita dengan sekeliling kita.
PENUTUP
Dalam keadaan sulit, jangan terkecoh oleh tipu daya iblis yang ingin membuat kita focus kepada masalah. Carilah Tuhan lebih lagi, lebih intim dan dekat lagi dengan Tuhan. Jangan putus asa dan tetap berdoa, karena sesungguhnya Dia selalu ada dekat dengan kita. Amin!