KEKUATAN IMAN SEJATI
Ibrani 11:1, Markus 11:22-24
Kekuatan iman kita yang sejati sebenarnya bukan ditentukan oleh seberapa besar iman yang kita miliki, melainkan oleh Siapa yang kita percayai, yaitu Tuhan Yesus. Lalu, di manakah letak kekuatan iman yang sejati?
1. KEKUATAN IMAN UNTUK PERCAYA SAAT TIDAK MELIHAT (Ibrani 11:1)
• Dunia berkata, “Lihat dulu baru percaya.” Namun, Tuhan Yesus berkata, “Percayalah dahulu, baru kamu akan melihat kemuliaan Allah.” (Yoh. 11:40). Contohnya adalah Abraham. Tuhan berjanji bahwa ia akan memiliki anak pada usia 100 tahun. Secara logika, hal itu mustahil. Namun, Alkitab mencatat: “Ia tidak bimbang terhadap janji Allah” (Roma 4:20).
2. KEKUATAN IMAN UNTUK MELAWAN KETAKUTAN (Markus 4:39-40)
• Masalah tidak akan hilang karena kita kuat, melainkan karena Yesus ada di dalam perahu kehidupan kita. Musuh utama dari iman adalah ketakutan, keraguan, dan kekecewaan. Kekuatan iman bersumber dari ingatan tentang siapa Yesus. Dia adalah Tuhan yang sanggup meredakan badai, memberi makan 5.000 orang, dan membangkitkan orang mati. Jika Dia sanggup melakukan semua itu, Dia pasti sanggup menolong dan menyelesaikan masalahmu.
3. KEKUATAN IMAN UNTUK MELIHAT YANG MUSTAHIL (Markus 11:22-24)
• Iman bukan memaksa Tuhan, melainkan setuju dengan apa yang telah Tuhan janjikan. Lihatlah perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Jumbai jubah Yesus saja sanggup menyembuhkannya karena ia punya iman! Ketika kita memiliki kekuatan iman untuk melihat yang mustahil, hidup kita akan dicirikan oleh empat hal ini:
o Tetap berdoa bahkan saat jawaban belum terlihat (Luk. 18:1).
o Tetap memuji Tuhan walau keadaan tidak baik (Hab. 3:17-18).
o Tetap taat walau tidak mengerti seperti Abraham yang mau korbankan Ishak.
o Tetap mengampuni karena Yesus sudah mengampuni kita.
PENUTUP
Iblis ingin kita menaruh iman kita pada tiga hal, yaitu uang, manusia, dan kekuatan sendiri. Namun, Alkitab mengajarkan kepada kita: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia” (Yeremia 17:5) dan “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN” (Yeremia 17:7). Mari kita mengambil tindakan untuk menyerahkan setiap pergumulan kita, selalu memperkatakan firman Tuhan atas masalah kita, dan tetap hidup dalam ketaatan (Yakobus 2:17). Amin