<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>todayswisdoms.com : Wisdoms from Daily Life &#187; Memberi</title>
	<atom:link href="http://todayswisdoms.com/tag/memberi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://todayswisdoms.com</link>
	<description>Wisdoms from Daily Life</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Aug 2011 10:56:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>C O O L &#8211; Selasa 25 November</title>
		<link>http://todayswisdoms.com/2008/12/c-o-o-l-selasa-25-november/</link>
		<comments>http://todayswisdoms.com/2008/12/c-o-o-l-selasa-25-november/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 15:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[COOL]]></category>
		<category><![CDATA[Berkelimpahan]]></category>
		<category><![CDATA[Intim]]></category>
		<category><![CDATA[Memberi]]></category>
		<category><![CDATA[Sulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://todayswisdoms.com/2008/12/c-o-o-l-selasa-25-november/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Krisis perekonomian yang kali ini menghantam Amerika Serikat, ternyata dampaknya mengglobal. Hampir seluruh dunia ikut merasakan dampak dari krisis ini, dan tanpa terkecuali bangsa kita pun ikut juga merasakannya.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img height="299" alt="uang" src="http://todayswisdoms.com/wp-content/uploads/2008/12/uang.jpg" width="225" align="left" />BERKELIMPAHAN DI MASA SULIT</strong></p>
<p>Krisis perekonomian yang kali ini menghantam Amerika Serikat, ternyata dampaknya mengglobal. Hampir seluruh dunia ikut merasakan dampak dari krisis ini, dan tanpa terkecuali bangsa kita pun ikut juga merasakannya.</p>
<p>Kita bisa melihat  banyak pemberitaan di surat kabar mengenai kemungkinan PHK yang akan dilakukan, belum lagi jatuhnya pasar saham ke tingkat terendah dalam 3 tahun. Order pekerjaan yang biasanya sudah datang di akhir tahun ini sampai sekarang belum ada. Luar biasa dampak dari krisis kali ini dan kita pun tidak bisa memungkiri bahwa anak-anak Tuhan pun ikut merasakan dampaknya.</p>
<p>Namun kita perlu melihat kembali kepada janji Tuhan, apa menjadi kehendakNya bagi kita di saat-saat ini. Karena semua yang terjadi bukanlah suatu kebetulan, ini adalah sebuah goncangan seperti yang tertulis di dalam Hagai, agar harta bangsa-bangsa berpindah kepada rumah Tuhan. Ada maksud Tuhan lewat goncangan ini.</p>
<p>Ada 3 kebenaran agar bisa berkelimpahan di masa sulit:</p>
<p>1. Tuhan menginginkan supaya kita berkelimpahan.<br />
Dalam 3 Yohanes 1:2 dikatakan bahwa Yohanes berharap jemaat dalam keadaan yang baik-baik. Di dalam bahasa inggris, kata baik berasal dari kata prosper yang artinya berkelimpahan. ArtinyaTuhan menginginkan kita dalam keadaan yang berlimpah, hidup sejahtera agar kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. Kita menjadi berhasil bukan dengan &#8220;diam saja&#8221;, tetapi Tuhan akan membuat &#8220;jalan&#8221; agar kita berhasil dalam semua yang kita lakukan. Jadi bagian kita di saat sulit ini adalah :<br />
a. Melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa ( bekerja dengan rajin, memiliki roh excellent yang membuat kita berbeda dengan orang lain )<br />
b. Membuka mata dan  hati untuk melihat peluang, jalan dan kesempatan yang akan Tuhan tunjukan.</p>
<p>2. Mulai membangun keintiman dengan Tuhan ( 2 Tawarikh 26:5 dan Yohanes 15:7 )<br />
Kita harus sadari betul bahwa hanya dengan intim dengan Tuhan saja kita bisa melewati krisis ini di dalam kelimpahan, karena Tuhan adalah sumber segala sesuatu, di dalam Dia ada segalanya, dan dengan dekat dengan Dia maka kita akan senantiasa mendapatkan inspirasi, kekuatan yang baru, pengurapan, yang membuat kita tidak pernah salah langkah, bahkan terus maju.</p>
<p>3. Mulai meminta Keberhasilan. ( Mazmur 33:18-19 dan Mazmur 37:19 )<br />
Karena kita yakin bahwa Tuhan menginginkan kita berkelimpahan, maka mulailah membangun pengharapan tersebut di dalam hati kita. Janji Tuhan adalah kita akan tetap kenyang di saat kelaparan, kita akan tetap berkelimpahan di saat sekeliling kita sedang krisis! Jadi di masa sulit pun kita pasti berhasil, kita pasti bisa melewati semua dengan baik oleh karena Tuhan. Ingat Yabes, karena dia mengenal siapa yang Dia sembah maka dia tidak takut dan ragu untuk meminta kelimpahan, karena ia tahu itu yang Tuhan inginkan.</p>
<p>PENUTUP</p>
<p>Ini adalah kabar baik dari Tuhan, bahwa oleh karena Dia kita bisa berkelimpahan bahkan di saat sulit sekalipun.  1 Yohanes 5:14 mengatakan bahwa kita akan mendapatkan jawaban doa kita kalau kita berdoa sesuai dengan kehendakNya. Kita telah mengetahui kehedakNya bagi kita di masa sulit ini. Peganglah dengan teguh pengertian ini, apapun krisis yang kita hadapi, bersama Tuhan kita akan keluar menjadi pemenang, Haleluyah!<br />
Amin!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://todayswisdoms.com/2008/12/c-o-o-l-selasa-25-november/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kisah dari Acara Termehek-mehek</title>
		<link>http://todayswisdoms.com/2008/11/sebuah-kisah-dari-acara-termehek-mehek/</link>
		<comments>http://todayswisdoms.com/2008/11/sebuah-kisah-dari-acara-termehek-mehek/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 13:27:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih]]></category>
		<category><![CDATA[Memberi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://todayswisdoms.com/2008/11/sebuah-kisah-dari-acara-termehek-mehek/</guid>
		<description><![CDATA[Pasti sudah pada tahu acara ini kan? Acaranya setiap Sabtu &#8211; Minggu sore di Trans TV. Dari awal gue tahu acara ini langsung suka karena basic nya dari reality show, jadi (seharusnya) ini semua asli apa adanya tanpa rekaan. Acaranya sih mengenai mencari orang yang (tiba2) hilang. Beberapa cerita yang gw tonton mengenai kekasih yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img height="123" alt="termehek-mehek" src="http://todayswisdoms.com/wp-content/uploads/2008/11/termehek-mehek.jpg" width="225" align="left" />Pasti sudah pada tahu acara ini kan? Acaranya setiap Sabtu &#8211; Minggu sore di Trans TV. Dari awal gue tahu acara ini langsung suka karena basic nya dari reality show, jadi (seharusnya) ini semua asli apa adanya tanpa rekaan. Acaranya sih mengenai mencari orang yang (tiba2) hilang. Beberapa cerita yang gw tonton mengenai kekasih yang tiba-tiba ngga kasih kabar dan seperti lenyap ditelan bumi, lalu seorang anak angkat yang mencari ibu kandungnya, dan lain-lain. Terkadang borok manusia terbongkar, masalah keluarga, dan hal-hal sensitive lainnya. Heran juga ya Trans TV bisa terus menayangkan acara ini tanpa adanya tuntutan dari pihak2 yang dipermalukan karena beberapa hal masih termasuk aib untuk ukuran budaya Timur.</p>
<p><span id="more-314"></span><br />
Hari Minggu ini kisahnya cukup menyentuh. Alkisah, ada seorang perempuan yang bernama Dinita. Karena suatu kecelakaan korneanya pecah dan ia tidak bisa melihat. Lalu sang kekasih, Irwan dengan setia menemani selama masa pengobatan, mulai dari mencari donor mata sampai menguatkan Dinita. Namun menjelang kesembuhan Dinita, Irwan malah menghilang. Sejak itulah Dinita berusaha mencari Irwan.</p>
<p>
Bersama tim termehek-mehek, Dinita berhasil mencari alamat Irwan, lewat sebuah tanda terima paket yang Irwan pernah kirimkan kepada Dinita. Ternyata alamat tersebut adalah alamat rumah kakak wanitanya Irwan. Namun Irwan tidak ada di sana. Dan sang kakak menolak untuk menjelaskan mengapa Irwan tidak ada disana dan di mana Irwan sekarang. Bahkan sang kakak mengatakan kepada Dinita, apakah tidak cukup kesusahan yang Dinita sebabkan kepada keluarga tersebut. Lalu Dinita mengungkapkan kepada tim termehek-mehek bahwa hubungan mereka tidak pernah direstui oleh keluarga Irwan.</p>
<p>
Namun tim termehek-mehek berhasil membujuk sang pembantu rumah untuk memberikan alamat relasi dekat Irwan di saat tim termehek-mehek datang untuk kedua kali ke rumah kakak wanitanya Irwan. Ternyata alamat yang diberikan itu adalah alamat orang tua Irwan. Segera tim termehek-mehek berangkat ke sana.</p>
<p>
Di rumah orang tua Irwan, tim dan Dinita disambut oleh ayahnya Irwan. Di saat Dinita mengatakan tujuan kedatangannya, Ayah Irwan berkata, &#8220;Tidak mungkin bertemu Irwan, tidak mungkin!&#8221; Lalu ia mengusir Dinita dan tim termehek-mehek. Tiba &#8211; tiba ibunya Irwan keluar dari dalam rumah, dan begitu ia melihat Dinita, ia langsung terenyuh dan memanggil, &#8220;Kamu Dinita ya?&#8221; Dan si Ibu langsung merangkul Dinita.  Dinita langsung menangis, dan ia bertanya dimanakah Irwan sekarang …</p>
<p>
Dan si Ibu menceritakan apa yang terjadi … Irwan menderita suatu penyakit berat, dan sudah pergi (meninggal). Sebelum Irwan meninggal, ia mendonorkan matanya untuk Dinita. Dan oleh karena mata Irwan itulah Dinita saat ini bisa melihat kembali…</p>
<p>
Dinita langsung pingsan, ….</p>
<p>
Luar biasa kisah kali ini, seperti dongeng aja. Memang Irwan tahu dia akan meninggal, dan sebelum itu terjadi ia memberikan apa yang ia miliki bagi Dinita yang membutuhkannya. Jadi inget apa yang Yesus katakana … Joh 15:13  &#8220;Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.&#8221;<br />
Memang Irwan tidak memberikan nyawanya bagi Dinita, tapi tetap saja apa yang Ia berikan adalah sesuatu yang teramat sangat berharga bagi dia. Belum lagi dia harus berusaha agar keluarganya menyetujui keinginannya.</p>
<p>
Mungkin kita tidak harus memberikan mata kita bagi orang lain. Tetapi di luar sana banyak orang yang berkekurangan. Ada orang yang membutuhkan makanan, ada orang yang membutuhkan baju, ada orang yang membutuhkan sekedar teman untuk curhat, dll. Maukah kita menjadi seperti Irwan? Memberikan yang terbaik yang kita bisa berikan bagi orang lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://todayswisdoms.com/2008/11/sebuah-kisah-dari-acara-termehek-mehek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memberi dan Memberi</title>
		<link>http://todayswisdoms.com/2008/11/memberi-dan-memberi/</link>
		<comments>http://todayswisdoms.com/2008/11/memberi-dan-memberi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 09:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>David</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Memberi]]></category>
		<category><![CDATA[Menerima]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://todayswisdoms.com/2008/11/memberi-dan-memberi/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Berikut ini adalah tulisan dari sis Hesti mengenai Memberi dan Memberi yang sangat memberkati saya pribadi. Pengalaman sis Hesti membuat mata saya terbuka, bahwa banyak sekali manfaat dari memberi yang sering tidak kita sadari. Tulisan ini dibagi ke dalam 4 bagian.</p>
<p>Tuhan Yesus Memberkati</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><img height="297" alt="memberi" src="http://todayswisdoms.com/wp-content/uploads/2008/11/memberi1.jpg" width="225" align="left" />MEMBERI DAN MEMBERI  1</em></strong></p>
<p>Ini kejadian tahun 1994, yaitu di tahun pertama kekristenan saya, tentunya saya masih anak Tuhan yang lugu yang tidak punya banyak pengertian Firman Tuhan. Hari itu adalah hari Jumat, tepat pada hari libur nasional, saya tidak ingat libur apa. Biasanya kalau hari Jumat di gereja saya ada Kebaktian Dewasa Muda, jadi saya berangkat saja dengan maksud menghadiri Kebaktian itu.</p>
<p>Pada saat itu saya tidak bekerja dan hanya punya uang Rp. 5000,- saja. Di sebuah perempatan saya berhenti karena lampu merah. Ada seorang anak kecil, mungkin usia SD, meminta-minta di kaca mobil saya dengan mangkuk yang masih kosong. Saya terpaksa menolaknya karena saya berpikir uang itu untuk kolekte di gereja.</p>
<p>Lampu hijau, saya langsung belok kanan, tetapi hati saya langsung tidak enak, dan tidak dapat berhenti memikirkan anak kecil itu. Jadi saya spontan cari kesempatan untuk memutar balik mobil saya, untung jalanan sepi karena hari libur.</p>
<p>Sampai kembali di perempatan itu tadi, saya langsung menghentikan mobil saya di median jalan, dan langsung turun mencari anak kecil itu tadi. Benar saja. Saya melihat anak itu sedang bersandar pada sebuah tiang sambil menangis, dan dikelilingi oleh teman-temannya&#8230; Tanpa pikir panjang langsung saya ambil uang Rp. 5000,- itu tadi dan meletakkannya di mangkoknya. Lalu teman-temannya berkata : “Tuh, dikasih tuh!”. Dari situ saya baru tahu, ternyata anak itu menangis karena saya telah menolaknya. Saya lihat mangkok teman-temannya memang penuh dengan uang receh, tetapi mangkoknya kosong senditi.</p>
<p>Bagi saya, cukup satu kali pelajaran, sejak itu saya tidak mau lagi menolak pengemis, jika tidak terpaksa. Kita tidak tahu dari penolakan kita, diam-diam dia menangis di belakang kita. Padahal kadang-kadang kita cuma malas membuka kaca mobil, malas membuka dompet, kita tidak tahu pemberian kita itu penting buat mereka.  </p>
<p>Bahkan kita sering mendengar orang berkata begini : “Ini seharusnya urusan pemerintah dong.” Atau begini : “Memberi itu tidak mendidik. Mereka harus tahu susahnya cari uang. Enak saja tinggal ‘kecek-kecek’ lalu dapat uang.” Atau; “Enak saja tinggal ngelap mobil pakai kemoceng lalu dapat uang.” (Percayalah, mereka lebih tahu susahnya mencari uang daripada kita. Mereka harus berdiri diperempatan jalan dibawah terik matahari dan menghirup asap knalpot, hanya untuk mengumpulkan Rp. 100,- atau Rp. 200,- dari setiap mobil. Sedangkan kita enak-enak duduk dibelakang meja, di ruang ber AC, dengan gaji berjuta-juta sebulan.)</p>
<p>Atau orang berkata begini : “Pengemis-pengemis ini diorganisir.” (Diorganisir atau tidak, mereka tetaplah tidak punya penghasilan dan mereka butuh makan). Atau begini : “Nanti kalau kita ditodong bagaimana ? (Padahal saya hampir tidak pernah menemukan pengemis laki-laki). Atau begini : “Salahnya sendiri mengapa memilih menjadi pengemis”. (Tidak ada orang yang pernah memilih untuk jadi pengemis. Apakah roh seorang bayi dapat berkata pada Tuhan : “Tuhan, aku tidak mau dilahirkan di Etiopia yang tandus, aku maunya lahir di Indonesia yang subur dan banyak airnya.” Atau, “Tuhan, aku tidak mau terlahir sebagai anak orang miskin, anak pengemis, anak dukun, anak pelacur, anak penjudi, anak pemabok dan lain-lain, aku maunya lahir sebagai anak orang berkecukupan dengan rumah baik, sehingga orang tuaku dapat menyekolahkan aku sampai pendidikan tinggi, lalu kemudian aku dapat bekerja dengan gaji lumayan.” Tidak seorangpun dapat memilih mau dilahirkan dimana, dan oleh siapa)</p>
<p>Jadi saya berkata, sudahlah tidak usah banyak komentar, buka kaca jendela saja, buka dompet lalu berikan apa yang dapat kita berikan.</p>
<p><strong><em>MEMBERI DAN MEMBERI 2</em></strong></p>
<p>Yang ini adalah pengalaman tahun 2008 ini. Waktu itu seorang teman mengajak saya berdoa di sebuah gedung di wilayah Senen, Jakarta Pusat. Karena habis hujan lebat, saya tidak ingin membawa mobil, karena takut terhalang banjir, jadi mobil saya tinggal di rumah, dan saya pergi naik ojek. Saya berencana, pulangnya akan mencoba naik Mikrolet jurusan Senen-Kampung Melayu. Karena dari terminal bus Kampung Melayu, saya tahu bus yang ke arah rumah saya. Pulang berdoa, saya benar-benar mencoba naik Mikrolet Jurusan Senen-Kampung Melayu. Teman saya mengusulkan naik busway, tapi saya menolak, karena entah kenapa, sejak dari rumah, saya sudah ingin naik Mikrolet jurusan Senen-Kampung Melayu itu.</p>
<p>Jadilah, saya menemukan mikrolet yang saya maksud, dan saya duduk di depan di samping supir. Saya perhatikan supir mikrolet menyetir dengan ugal-ugalan, atau bahasa halusnya adalah ‘lincah bermanuver’. Dari jalur paling kiri, memotong kendaraan lain, bermanuver ke jalur paling kanan. Juga sebaliknya, dari jalan paling kanan, memotong ke jalur paling kiri. Semua itu dilakukannya untuk mengejar penumpang. Saya diam dan memperhatikan saja. Saya pikir percuma saya ‘kotbah’ tentang disiplin berlalu lintas, karena saya tahu semua itu dilakukannya karena kekuatiran dunia ini. Kekuatiran tidak dapat membayar setoran, keuatiran tidak bisa makan hari ini, kekuatiran tidak dapat membayar uang sekolah anaknya, dan kekuatiran lainnya. Jadi saya memilih untuk diam. Sampai suatu saat di lampu merah, ia mulai menghitung uang. Saya keluarkan uang Rp. 3000,- untuk membayar ongkosnya. Sebenarnya tarifnya pada saat itu adalah Rp. 2000,-, tetapi karena saya menumpang sudah lama, jadi saya bayar lebih saja. Lalu ia mulai membuka percakapan.</p>
<p>“Sekarang cari penumpang susah, kami harus bersaing dengan ojek dan busway. Saya sudah 20 tahun menjadi supir mikrolet, baru akhir-akhir ini mencari penumpang itu susah.” </p>
<p> “Bapak harus bayar setoran ? Ini saya tambahi, pak.” Kata saya, sambil mengeluarkan uang Rp. 10.000,-. Ia menolak.  “Tidak usah, tidak usah, bu.”</p>
<p>Tapi saya berkata : “Pak, saya baru dapat uang dari teman saya. Tuhan gerakkan hati saya, yang Rp. 10.000,- ini untuk bapak. Jadi ini dari Tuhan, terimalah, pak.”</p>
<p>Mendengar ‘ini dari Tuhan’, langsung ia mau menerimanya. Dan ajaib, perilaku menyetirnya tiba=tiba berubah 180 derajat. Tiba-tiba ia tidak mengemudi ugal-ugalan lagi. Bahkan ia dapat berkata “Sabar yaaa….”, pada seorang penumpang yang mau turun.</p>
<p>Dari cerita ini perhatikan, bahwa saya tidak berkotbah, saya juga tidak berkata “Ini supir harus dididik, dikasih pelajaran! Tabrak saja mobilnya! Kempeskan saja bannya!”. Tidak. Saya hanya memberi uang lebih, disertai perkataan yang menyejukkan ‘ini dari Tuhan’, perilakunya langsung berubah. Jadi kita dapat belajar, betapa siraman rohani yang sejuk, dapat merubah perilaku seseorang, daripada tindakan-tindakan yang keras, yang disebut orang ‘mendidik’.</p>
<p>Mungkin sebenarnya perilaku ugal-ugalan para pengemudi angkutan umum itu dapat diredakan dengan sekedar ‘siraman rohani’ yang sejuk seperti : “Tuhan peduli lho. Tuhan mengerti beban hidupmu. Tuhan mau menolong”, dan sebagainya, lebih dari paksaan-paksaan atau hukuman-hukuman.</p>
<p><strong><em>MEMBERI DAN MEMBERI 3</em></strong></p>
<p>Saya punya seorang teman, yang saya kenal mungkin mulai tahun 2002. Ibu ini kebahagiaannya adalah memberi dan memberi. Sampai saat ini, tahun 2008, kegemarannya adalah memberi banyak pemberian kepada saya. Apa saja yang dapat diberi, ia ingin memberikannya kepada saya. Apa saja, mungkin uang, selop, pakaian, sekantong permen, membelikan bensin, membayari parkir, apa saja. Saya yakin ia juga banyak mendengar ‘kata orang’ tentang saya, yaitu segala tuduhan yang keji dan mengerikan, toh ia tetap mengikuti kata hatinya untuk memberi dan memberi. Saya yakin, seperti saya, iapun berprinsip : ‘Listen to the voice within, rather than what people say’ (Dengarkan suara dalam hatimu, lebih dari apa kata orang).</p>
<p>Suatu hari ia membelikan bensin untuk mobil saya. Untuk membalas budinya, saya ingin mengantarkannya sampai ke rumahnya. Tetapi saya malah dimarahi.</p>
<p>“Kamu tidak boleh berpikir seperti itu. Saya membelikan bensin karena hati saya tergerak untuk itu. Tetapi saya tidak mengharapkan imbalan apa-apa.” Ibu ini memberi dan memberi, tanpa syarat, dan tak harap kembali.</p>
<p>Mulai saat itu saya tidak lagi berusaha untuk membalas pemberian-pemberiannya, tapi saya hanya berdoa; “Tuhan, berkati ibu ini berlipat ganda, melalui tangan orang lain.” Saya tahu ibu ini tidak kaya, tetapi kebahagiaannya adalah memberi dan memberi. Mengapa begitu ? Karena hatinya melimpah dengan syukur. Keinginan memberi hanya dapat keluar dari hati yang bersyukur. Saya tahu jika saya berusaha untuk membalas pemberian-pemberiannya, itu hanya akan merusak kebahagiaannya. Oleh sebab itu saya lebih baik berdoa, supaya Tuhan membalasnya berlipat ganda, melalui tangan orang lain.</p>
<p><strong><em>MEMBERI DAN MEMBERI 4</em></strong></p>
<p>Masih dalam konteks ‘memberi dan memberi’, saya juga mau bicara tentang ‘seminar’&#8230; Banyak orang berkata : “Kalau KKR boleh gratis, tapi seminar harus bayar!”. Saya tidak pernah tahu apa pertimbangannya, bagaimana cara berpikirnya, dan apa dasar hukumnya dalam Alkitab, tetapi saya melihat orang Kristen “hobby” begitu.</p>
<p>Tetapi saya juga melihat bahwa beberapa hamba Tuhan tidak mengikuti “peraturan tidak tertulis” itu dan tetap “hobby” memberi seminar gratis. Saya mau saksikan salah satu diantaranya.</p>
<p>Saya mengikuti SHRK (Seminar Hukum Roh Kehidupan) yang undangannya selalu diumumkan melalui milis ini, mungkin sejak tahun 2002. Ini adalah seminar gratis, yang diadakan sebulan sekali, setiap bulan tiga hari. Tahun 2002, seminar diselenggarakan di Menara Era, Senen, Jakarta Pusat.</p>
<p>Sejujurnya selama 3 tahun, yaitu dari tahun 2002 sampai 2004, saya telah membuat panitia ‘tekor’ dengan kehadiran saya. Lho, bagaimana bisa begitu ? Karena selama 3 tahun itu saya tidak bekerja, tidak punya penghasilan, tetapi rajin mengikuti seminar itu. Kadang-kadang saya hanya membawa uang Rp. 1000,-, Rp. 2000,- atau paling banyak Rp. 5000,- saja. Pada saat itu panitia menyediakan ‘kupon parkir’, dan saya adalah pelanggan setia. (Jadi sudah seminarnya gratis, parkirpun dibayari!).</p>
<p>Jadi bayangkan, kolekte saya hanya Rp. 1000,- atau Rp. 2000,-, atau kadang-kadang Rp. 5000,-, tetapi panitia harus membayari parkir saya Rp. 6000,- sampai Rp. 8000,- sekali datang. Apa ini tidak membuat panitia ‘tekor’ ? Jangan berkata saya tidak sedih untuk hal ini. Tetapi saya sedihpun, tetap saja saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dan mereka tetap memberi dan memberi, berkat rohani maupun berkat materi kepada saya.</p>
<p>Tetapi apakah itu membuat hambaNya dan seluruh panitianya menjadi miskin ? Tidak. Kalau saya mau saksikan, banyak berkat rohani dan materi yang mereka sudah terima, jadi saya hanya mau mengambil contoh yang signifikan saja. Yaitu bahwa suatu hari hambaNya bersaksi, bahwa Tuhan telah memberi berkat materi kepada mereka senilai Rp. 30 M, cukup untuk membangun sebuah gedung gereja berkapasitas 12.000 kursi. (Holy Stadium).</p>
<p>Saya lega sekali, dan saya sebut berita itu sebagai ‘penghiburan’ dari Tuhan. Lho kok ‘penghiburan’? Karena selama 3 tahun saya sedih dan tertekan, setiap kali saya mengingat bahwa saya telah membuat tekor panitia. Tetapi Tuhan telah perlihatkan kepada saya, bahwa apa yang saya sebut sebagai ‘kerugian panitia karena kehadiran saya’, sudah ditutup oleh Tuhan dengan berkat ribuan kali ganda! Dan pada tanggal 29 Desember 2007, saya dapat pergi ke Semarang, dan melihat Holy Stadium itu dengan mata kepala sendiri. Ada rasa bahagia dan bangga akan Tuhan saya, yang saya rasa tidak dimiliki orang lain, karena saya rasa ‘membuat tekor panitia’ adalah pengalaman saya saja.</p>
<p>Dan saya lebih mengerti maksud Firman Tuhan yang berbunyi : <em>“Berilah, dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.” (Luk 6; 38a)</em></p>
<p>Dan saya mau bersaksi, selama 6 tahun saya mengikuti seminar gratis itu, tidak pernah saya mendengar panitia mengumumkan begini : “Saudara-saudara, seminar bulan depan terpaksa ditiadakan, karena kami kekurangan dana untuk sewa gedung, akomodasi hambaNya dan rombongan dari luar kota , dan sebagainya.”</p>
<p>Jadi mereka memberi dan memberi, tetapi tidak membuat mereka kekurangan. Bagaimana bisa begitu ? Bagaimana semua biaya itu bisa ditutup ? Saya tidak tahu, tanyakan saja pada panitia. Yang saya tahu hanya : “Tuhanku kaya raya dan murah hati.”</p>
<p>Jadi mengapa banyak orang ‘hobby’ menyelenggarakan seminar yang harus bayar ? Seorang teman berkata begini : “Karena ada harga yang harus dibayar untuk orang yang mau mengikuti seminar”. Saya terbelalak, begitukah ? Apakah ini karena ‘kasus’ saya, yaitu dengan banyaknya tuduhan kepada saya, sehingga setiap seminar harus ‘ada harganya’ ?</p>
<p>Lha bagaimana kalau seorang penjahat sungguhan dan berkaliber seperti “seorang Nurdin Moh Top” tiba-tiba memasuki ruang seminar karena Tuhan membuat hatinya rindu akan pengajaran Firman Tuhan ? Apakah mereka akan mendatanginya dan berkata begini : “Pak, kami tahu siapa anda, oleh karena itu khusus untuk bapak, harga satu bangku seminar untuk sekali datang adalah Rp. 10 juta! Supaya bapak tahu, betapa mahalnya harga sebuah pengajaran Firman Tuhan.!”. Begitukah ? Hai, apakah kita sedang kembali ke jaman sebelum Reformasi Martin Luther, dimana para “hamba Tuhan” berkata : “Mau dosamu diampuni ? Bayar dulu dong dengan uang….!”</p>
<p>Kalau masa kini, orang Kristen berkata begini :</p>
<p>     “Mau dengar pengajaran Firman Tuhan ? Bayar dulu dong dengan uang.” </p>
<p>    “Mau dengar pesan Tuhan terkini ? Bayar dulu dong dengan uang.”</p>
<p>    “Oo, mau duduk depan dekat mimbar ? Bayar lebih mahal dong! Makin ke depan, urapannya makin kuat lho! Jadi wajar dong, kalau makin ke depan harganya makin mahal!”</p>
<p>Jika anda seorang event organizer, dan membuat seminar yang harus bayar, lebih baik dengan alasan “karena kami tidak punya iman yang dapat memindahkan gunung”. Ini lebih mudah dimengerti daripada untuk alasan yang saya sebut di atas.</p>
<p>Saya berharap kita semua tidak tiba-tiba berubah menjadi seorang “pelupa”. Kita lupa bahwa kita telah menerima keselamatan dengan gratis, karena anugerahNya, bukan karena kebaikan kita, bukan karena kehebatan kita, juga bukan karena kekayaan kita. Kita lupa, bahwa keberadaan kita saat ini, dengan berkat rohani dan jasmani yang melimpah, itu hanya karena anugerahNya. Kita lupa, bahkan kesanggupan kita untuk taat, juga hanya karena anugerahNya.</p>
<p>Atau adakah kita yang telah disalib, mati dan bangkit pada hari ketiga ? Kitakah yang disesah dengan cambuk orang Romawi dan dimahkotai duri ? Jika itu Jesus, mengapa kita yang ‘pasang harga’? Atau maha tahukah kita sehingga kita dapat menentukan dosa seseorang, lalu menetapkan berapa besar ia harus bayar harga ? Dapatkah kita berkata : “Si A dosanya begini begitu, jadi harus ‘bayar harga’ begini begitu”. Atau “Si B dosanya begini begitu, jadi harus ‘bayar harga’ begini begitu” ?</p>
<p><em><strong>SEKILAS TENTANG ‘BAYAR HARGA’.</strong></em></p>
<p>Saya melihat banyak orang salah mengerti tentang ‘bayar harga’, mereka mengacaukannya dengan pengertian orang dunia. Jika seseorang membuat anda menderita, lalu anda berkata begini : “Kamu sudah membuat saya menderita, kamu harus ‘bayar harga’nya, dengan menderita juga!” Ini namanya bukan ‘bayar harga’, ini namanya ‘balas dendam’, tidak mau mengampuni dan membalas kejahatan dengan kejahatan.</p>
<p>Atau seseorang berkata begini : “Eh, si Anu jatuh dalam dosa perzinahan lho.” Lalu anda berkata : “Kalau begitu si Anu harus ‘bayar harga’nya. Kita adukan saja pada istrinya.” Atau “Kita tabrak saja mobilnya&#8230;” Atau “Kita kempeskan saja bannya.” Ini juga bukan ‘bayar harga’, ini adalah PENGHAKIMAN. Sudah menghakimi itu dosa, berdasarkan ‘kata orang’ lagi.</p>
<p>Jadi apa itu ‘Bayar Harga’? ‘Bayar Harga adalah suatu perkara yang DITENTUKAN TUHAN (bukan manusia), yang harus dijalani oleh seseorang, oleh karena sebab-sebab :</p>
<p>1. Pelanggaran atau ketidak taatan. Contohnya ketika Daud melakukan pelanggaran dengan menghitung jumlah orang Israel, maka Tuhan menghadapkan 3 perkara yang harus dijalani Daud untuk membayar harga atas pelanggarannya. Jadilah, 70.000 rakyat Israel harus mati kena tulah. Itulah ‘bayar harga’ karena pelanggaran.</p>
<p>2. Tidak karena pelanggaran atau ketidak taatan, tetapi Tuhan ingin membawanya ke level rohani yang lebih tinggi, ke tingkat tertentu di Kerajaan Sorga. Itu juga ada harga yang harus dibayar.. Contohnya adalah Daud. Untuk menjadi seorang raja Israel , Daud harus mem’bayar harga’ dulu dengan menjadi ‘buron’ dari bangsanya sendiri. Daud harus lari sembunyi dari kejaran Saul yang ingin membunuh Daud karena iri hati saja. Tetapi dalam masa pelariannya itulah, Daud mengalami ‘pertumbuhan karakter’, ‘pertumbuhan iman’ dan latihan-latihan ketaatan. Sehingga ketika ia sudah menjadi raja, ia menjadi raja yang dikenan Tuhan. Itulah ‘bayar harga’karena naik tingkat.</p>
<p>3.  Bayar harga untuk sebuah pelayanan, atau untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Contohnya adalah ketika Ester mau menyelamatkan seluruh bangsa Israel dari pembunuhan missal yang dirancang Haman, Ester berpuasa 3 hari 3 malam hanya untuk menghadap raja. Ester membayar harga keselamatan bangsanya dengan membayar harga, yaitu berpuasa 3 hari 3 malam.</p>
<p>Contoh masa kini adalah Rebecca Brown yang ditugaskan Tuhan untuk melepaskan Elaine dari gereja setan. Rebecca Brown harus ‘membayar harga’, dengan bertempur melawan roh-roh jahat, bahkan roh-roh manusia yang melakukan ‘astral project’ (meraga sukma) dan memasuki jasmani Elaine untuk membunuh mereka berdua. Itulah ‘bayar harga’ untuk menyelamatkan jiwa seseorang. (Baca : ‘Lepas Dari Cengkraman Setan’ oleh Rebecca Brown).</p>
<p>Kembali kepada soal ‘Memberi dan Memberi’, saya bersyukur sebab walaupun saya harus menghadapi orang-orang pintar-pintar dan hebat-hebat dengan karakter sempurna sehingga merasa layak untuk ‘mendidik’ orang lain (apalagi berdasarkan ‘data-data dan informasi-informasi’ yang dianggap sebagai ‘kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat), setidaknya Tuhan masih mempertemukan saya dengan orang-orang sederhana yang kebahagiaannya adalah memberi dan memberi, dan tak harap kembali.</p>
<p>Hesti. 15 September 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://todayswisdoms.com/2008/11/memberi-dan-memberi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

